Khutbah jum’at akhir tahun hijriyah
5 Juli 2024 M/
1445 H
Oleh: Machmud Nurokhim, M.Pd.
الْحَمْدَ
ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ
اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُو اللهَ وَأَطِيْعُوْهُ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا ، عَسَى
رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ
Hadirin sidang jumah yang dirahamti
Allah, Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah swt.
Alhamdulillah, berkat limpahan rahmat dan inayah-Nya, kita masih mendapatkan
nikmat iman dan Islam, nikmat sehat, panjang umur, dan nikmat kekuatan,
sehingga hati kita masih terpanggil mentaati perintah Allah, dan duduk
bersimpuh di tempat yang insyaAllah penuh berkah ini.
Shalawat dan salam semoga tercurah
kepada Baginda Nabi Besar Muhammad saw beserta keluarga dan para
sahabatnya, hingga kepada kita yang senantiasa berharap ridha dan syafaatnya
pada hari Kiamat. Amin ya mujibassa’ilin.
Melalui mimbar yang mulia ini,
khatib berpesan kepada diri khatib pribadi khususnya dan kepada jamaah
Jumat umumnya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt.
Sebab, hanya iman dan takwa yang menjadi benteng dan keselamatan diri kita kelak.
Hadirin rahimakumullah, Tak
terasa kita sudah berada di penghujung tahun hijriah dan beberapa hari lagi
akan memasuki tahun baru hijriah. Waktu terus berlalu. Jarum jam terus
berputar. Perjalanan waktu terasa begitu cepat. Karena memang itulah sabda
Rasulullah salah satu pertanda akhir zaman.
Seiring dengan bertambahnya usia
kita, tentunya bertambah pula dosa-dosa kita. Tapi sering kali kita abai bahwa
kesempatan kita di dunia terus berkurang. Maka selaku manusia biasa, bersamaan
dengan momen pergantian tahun hijriah ini, marilah kita introspeksi diri dan
bertobat kepada Allah.
Tobat tentunya harus didasari bahwa
kita tak punya jaminan terlepas dari jeratan dosa. Untungnya, kondisi ini sudah
diantisipasi oleh Allah swt, selaku Dzat yang Maha Mencipta dan Maha Mengetahui
keadaan makhluk yang diciptakan-Nya. Karena itu, Allah telah memerintahkan kita
untuk bertobat, sebagaimana surat at-Tahrim ayat 8 :
﴿يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةٗ نَّصُوحًا
8. Hai orang-orang yang
beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang
semurni-murninya).
Melalui ayat ini, meski tidak
secara eksplisit, Allah juga hendak berpesan kepada para hamba-Nya bahwa Dia
membukakan pintu ampunan kepada mereka. Sebab tidak mungkin rasanya jika Allah
memerintahkan hamba-Nya bertobat, sementara Dia menutup pintu ampunan. Namun,
ampunan itu tidak serta merta diberikan kepada kita selaku hamba sampai kita
berusaha keras mendapatkannya.
Salah
satunya dengan bertobat nasuha tadi. Lanjutan ayat tersebut menyebutkan:
عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَئَِّاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا
ٱلۡأَنۡهَٰرُ
Artinya: “Mudah-mudahan Rabbmu menutupi
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir
sungai-sungai di bawahnya.”
Allah menggunakan kata ‘asa yang
berarti ‘mudah-mudahan’. Penggunaan kata mudah-mudahan mengindikasikan kepada
kita bahwa Allah tidak memastikan ampunan kepada hamba-Nya yang bertobat.
Ketidakpastian ini, dimaknai oleh para ulama, bukan berarti kita sia-sia ketika
bertobat, melainkan ketidakpastian tersebut harus dipahami agar kita
sungguh-sungguh menjalankan tobat dan meyakinkan Allah bahwa kita benar-benar
hamba yang layak mendapatkan ampunan-Nya.
Begitulah Allah menawarkan ampunan
yang menjadi hak prerogatif-Nya tetapi keberhasilannya ditentukan oleh
kehendak-Nya dan seberapa besar kesungguhan hamba-Nya. Adapun yang dimaksud
dengan tobat nasuha adalah tobat yang dijalankan dengan semaksimal mungkin,
artinya tidak setengah-setengah, atau tidak sekadar main-main. Artinya hari ini
kita bertobat, esok kita berdosa lagi, esoknya bertobat lagi, dan seterusnya.
Lebih jauh, para ulama merinci sejumlah syarat tobat nasuha, sebagai berikut:
Pertama, adalah
niat kita bertobat harus tulus dan ikhlas, bukan karena ingin dipuji seseorang,
atau hanya karena ingin terlihat saleh dan religius. Karenanya, tobat ini harus
dibangun atas niat yang lurus, benar-benar mengharap ridha dan
ampunan-Nya.
Kedua, para
ulama menyebut, syarat tobat nasuha itu menyesali perbuatan dosa yang telah
dilakukan. Di sinilah sulitnya bertobat kepada Allah, sebab hati kita
seringkali sulit diajak menyesali perbuatan salah yang telah dilakukan.
Bagaimana kita akan tobat bersungguh-sungguh jika hati kita tak menyesal atau
tidak mengakui kesalahan.
Ketiga, syarat
tobat nasuha ialah menghentikan semampu mungkin segala dosa, baik kecil maupun
besar. Sebab tak ada dosa kecil jika dilakukan secara terus menerus, dan tidak
ada dosa besar jika diiringi dengan tobat. Yang dimaksud berhenti adalah tidak
hanya berhenti dari dosa yang kita tobati, tetapi dari segala dosa, jika kita
ingin betul-betul mencapai derajat nasuha. Selama ini mungkin masih ada
yang memahami bahwa tobat adalah menghentikan dosa tertentu, tetapi masih
merasa suka mengerjakan dosa yang lain. Maka dalam konsep tobat nasuha, semua
dosa, semampu mungkin harus kita tinggalkan. Berikutnya, jika kita ingin
meraih tobat nasuha, kita harus bertekad untuk tidak mengulangi dosa yang sama
di masa yang akan datang, begitu juga dosa-dosa yang lain. Para ulama
menegaskan, selain bertekad tidak mengulangi, kita berusaha mengganti atau
menebus kesalahan yang telah lalu. Contohnya, jika kita pernah meninggalkan
kewajiban, maka gantilah. Jika ada shalat atau puasa yang pernah ditinggal,
maka gantilah dengan qadha. Jangan karena kita merasa sudah bertobat, kesalahan
yang lalu dianggap sudah selesai. Tobat seorang Muslim berbeda dengan
seorang non-Muslim yang masuk Islam. Bagi seorang Muslim,
kewajiban-kewajibannya yang telah lalu menurut pendapat yang rajih, tetap harus
diganti, sementara non-Muslim ketika masuk Islam, maka kewajiban yang telah
lalu, tidak perlu diganti atau di-qadha.
Ke Empat, Taubat dilakukan
pada waktunya. Ini artinya, tobat pun ada waktunya. Lewat dari waktu itu, kita
tidak akan diterima. Waktu tobat tersebut ada yang bersifat umum, dan ada yang
bersifat khusus. Yang bersifat umum adalah selama matahari masih terbit dari
timur dan terbenam di barat. Maka, bertobat setelah matahari terbit dari barat
maka tobat tidak ada artinya. Sebab itu tanda berakhirnya zaman dan tanda
runtuhnya alam.
Sebagaimana firman Allah:
يَوْمَ يَأْتِيْ بَعْضُ اٰيٰتِ رَبِّكَ
لَا يَنْفَعُ نَفْسًا اِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ اٰمَنَتْ مِنْ قَبْلُ اَوْ
كَسَبَتْ فِيْٓ اِيْمَانِهَا خَيْرًاۗ
Artinya: “Pada hari datangnya
sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum
beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya
itu,” (QS. al-An‘am [6]: 158).
Sementara waktu khusus adalah saat
ajal menjelang alias sakaratul maut. Karena itu, manakala ajal datang, maka
tidak ada artinya tobat yang kita lakukan, berdasarkan firman Allah dalam
surat an-Nisa’:
وَلَيْسَتِ
التَّوْبَةُ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِۚ حَتّٰىٓ اِذَا حَضَرَ
اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ
Artinya: “Dan tidaklah tobat
itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) apabila
ajal datang kepada seseorang di antara mereka,” (QS. an-Nisa’ [4]: 18).
Hadirin sekalian, Namun
syarat-syarat ini merupakan syarat tobat yang dosanya berkaitan langsung dengan
hak Allah. Sementara, jika dosanya menyangkut hak sesama manusia maka kita
harus terlebih dahulu memohon maaf kepada yang bersangkutan atau kepada orang
yang pernah kita dzalimi, sebelum memohon ampunan kepada Allah. Jika ada yang
pernah kita rampas, maka segeralah kembalikan. Bagaimana jika yang bersangkutan
sudah tiada dan sulit ditemui, maka banyak-banyaklah memohon ampunan untuknya.
Agar amal ibadah kita kelak tidak diambil oleh yang bersangkutan, sebagai
penebus kesalahan kita. Itulah perintah Allah kepada kita semua untuk
bertobat dan jangan pernah kita abaikan. Sebab, tidaklah Allah memerintahkan
sesuatu kecuali untuk kemaslahatan para hamba-Nya. Tidaklah Allah memerintahkan
tobat kecuali untuk kebaikan kita semua agar segera menyadari kesalahan yang
pernah diperbuat sekaligus sebagai salah satu cara memperbaiki keadaan.
Boleh jadi, bencana, musibah, dan
petaka yang sedang menimpa kita atau saudara-saudara kita adalah akibat
kesalahan dan pelanggaran kita terhadap tuntunan Allah dan rasul-Nya. Asumsi
ini tentu tidak berlebihan jika kita melihat salah satu firman-Nya:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ
عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya: “Hendaklah
orang-orang yang menyalahi perintah rasul, takut akan ditimpa fitnah atau
ditimpa azab yang pedih,” (QS. an-Nur [24]: 63).
Hadirin rahimakumullah,
Begitulah cara Allah melindungi hamba-Nya dari kerusakan, baik kerusakan agama,
jiwa, akal, keturunan, maupun harta. Sebab untuk tujuan itulah salah satunya
syariat Islam diturunkan. Maka bersamaan dengan momen berakhirnya tahun hijriah
kali ini, marilah kita introspeksi dan menata diri. Marilah bersihkan diri,
jernihkan hati dengan bertobat, dan sambut tahun mendatang dengan lebih
optimis. InsyaAllah, dengan bertobat dan berusaha kembali kepada tuntunan
Allah, kehormatan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta kita akan lebih
terjaga dan hidup kita lebih tertata.
Semoga kita dapat memetik pelajaran
dari setiap peristiwa yang terjadi, dan diberikan kesempatan untuk bertobat
atas segala kekhilafan yang pernah kita perbuat. Amin ya rabbal alamin
.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ
أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ
وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا
بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . وَصَلَّى
الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
آمِينَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ